Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2022
aku seperti serpihan puing berserakan dari angkuhnya dunia menilai aku tidak dan ingin terlihat cukup saja diriku yang merasakan dan seketika kau temukan aku masih berlumuran darah pengorbanan picik dengan sahaja membasuh dan sadarkan yakin bahwa puing itu akan tersadar bahwa cinta itu harusnya bahagia dan selayaknya tidak meruntuhkan bahwa cinta itu sejatinya menguatkan seperti awan dipelukan jingga senja jika saja asa kita bertemu banyak mimpi mimpi ingin terwujudkan sadarkan diri bukanlah sekedar puing menjadi agung menapaki hari esok bandung 31 agustus 2022
memahami itu seperti kata kata saat keraguan akhirnya sirna perlahan semoga yang kulihat bukan fatamorgana samar terasa sulit memaknai bahagia aku dipersimpangan jalan pilu tak ada yg bisa memahami hatiku sekejap saja kau ada disampingku inikah bidadari yang tuhan janjikan untukku percayakah engkau jika kukatakan seribu kata buaian bahagia sebelum lelap tentramkan hari hari mu tenangkan langkahmu sebab mulutku berbicara tulus dari hati wahai bidadari izinkan kan aku genggam tanganmu bersama untuk melangkah bandung 31 agustus 2022
jika cinta itu harus diam sampaikah ia pada mimpinya gelisah tak pada waktunya tak ada sinar mentari basah dalam lembab dia hanya ingin ber metamorforsa tertahan pada lingkup yang membuatnya mati hanya membuatnya menderita hidup tak berarti mati pun enggan
ingin menulis tetapi apa lelah mengukur rindu tak berujung kata kata terkunci terbelenggu singgah silih berganti kabut fatamorgana mendung ... hanya hitam yang tak jua merintik tertahan dibalik jeruji angkuh apa mulutmu tertutup kain mati ? utara akan selamanya utara atas tak akan buatmu merunduk jadilah selatan yang berusaha ramah walau rindunya pada utara tak tersampaikan saat senja hatiku merindu rindu akan rindu yang terobati bandung 21 juli 2022
aku melihatmu seperti bayangan bagaimana bisa kau tak terlihat diantara seribu warna pelangi di kahyangan kau berwarna satu dan itu indah seperti udara putih yang melayang turun mengendap menjadi embun pagi sekejap sadarku terlihat merona hilang semua muakku pada dunia wahai bunga yang tak terlihat hati ini menunduk padamu bandung 20 juli 2022
lemahku seperti sepi tak berujung menunggu ya .... hanya menunggu yang tak pasti egoku telah bicara memaksa ku terdiam dalam ruang hampa aku tau ucapku tak seperti rasaku matahari sebentar lagi akan tiada kuhirup wanginya teh hangat terasa pahit.. walau manisnya masih terkenang tak akan kurubah coklat pekatnya biarkan apa adanya saat ini aku mengingatmu haruskah ku cabut asa ini sedangkan perjalanan masihlah panjang berdegup seperti tertancap mati di hati bandung 18 juli 2022
awan itu menggumpal terlihat indah seperti hatiku yg menggumpal ketika jauh begitu sulit memaknai ketika ada dan menghilang setelah tertiup angin angin adalah waktu yang bergerak mencari keteguhan yang tetap berpijak seperti bejana terisi air dari rasa percaya apalah guna jika terpecah berai disini ku mencoba memungut satu persatu yang aku tahu akan sia sia menunggu awan kan menghitam  sirami hati ini untuk hidup kembali bandung 19 juli 2022